Å·±¦ÓéÀÖ

Bangsa Quotes

Quotes tagged as "bangsa" Showing 1-20 of 20
Pramoedya Ananta Toer
“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri”
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?”
Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

Pramoedya Ananta Toer
“Dan bukankan satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada yang kegelapan dan memberi mata pada yang buta”
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
“Kau tak kenal bangsamu sendiri.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Pramoedya Ananta Toer
“..babak sinthesis sedang di ambang pintu. Yang jelas, semua yang telah terjadi akan abadi dalam ingatan bangsa ini dan umat manusia sepanjang abad, tak peduli orang suka atau tidak. Para pengarang akan menghidupkannya lebih jelas dalam karya-karyanya. Para pembunuh dan terbunuh akan menjadi abadi di dalamnya daripada sebagai pelaku sejarah saja. Topeng dan jubah suci akan berserakan.”
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
“Lenyapnya perikemanusiaan dalam kegalauan sosial yang busuk, berarti pula tipisnya kepribadian, bukan saja sebagai bangsa, tetapi juga sebagai individu.
Dan bangsa atau nasion yang begitu mudah menanggalkan perikemanusiaan dengan sendirinya mudah pula tersasar dalam perkembangan sejarah.”
Pramoedya Ananta Toer, Hoa Kiau di Indonesia

“Tradisi setiap bangsa adalah modal dan warisan abadi yang mengungkapkan kemajuan dan peradaban yang pernah dicapainya. Setiap bangsa pasti memiliki masa lalu sebelum menginjak masa kini; dan membangun masa kini yang kokoh di atas pijakan masa lalu yang kuat.”
Yusri Abdul Ghani Abdullah, Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern

Dian Nafi
“semuanya menikmati keindahan lantunan ayat-ayat cintaNya..
wajah-wajah berbagai bangsa yang penuh senyum
dan hati-hati yang penuh ketakwaan”
Dian Nafi, Miss Backpacker Naik Haji

Hanum Salsabiela Rais
“Media kekinian. Merekah tanpa batas, bahkan tak ada yang berani memprotes jika media memutarbalikkan fakta. Media membuat muslihat paling menipu daya, yang buruk menjadi begitu mulia, dan yang begitu mulia menjadi buruk rupa. Luar biasa kuatnya opini yang dibentuk media sehingga dapat memengaruhi perekonomian, perpolitikan, sosial, dan budaya sebuah bangsa. (44)”
Hanum Salsabiela Rais, Bulan Terbelah di Langit Amerika

Wan Mohd Nor Wan Daud
“Bangsa yang kuat tetapi tidak ditunjangi oleh budaya ilmu yang baik, akan memeluk dan menganut nilai dan ciri tamadun lain yang ditaklukinya itu. Hal ini boleh disimpulkan sebagai satu prinsip umum sejarah.”
Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu: Satu Penjelasan

Ramzah Dambul
“Kalau benar pergelutan ini
merajakan demokrasi
pada takhta liberal:

Kita adalah khadam
membontoti kapitalis bangsat,
kita bukan nakhoda
mengemudi bahtera bangsa.

(Pergelutan)”
Ramzah Dambul, Deja Vu Cinta Pencari Katarsis

Rahimidin Zahari
“Bahasa terbina
dari nurani bangsa
bangsa besar kerana
keutuhan bahasanya.”
Rahimidin Zahari, Bayang Beringin

“Bangsa ini tak maju-maju kalau generasi mudanya banyak yang sok pintar, sok kritis di internet.”
Jarar Siahaan
tags: bangsa

Siti Zainon Ismail
“Sekarang dia ada suara
dengan dapatnya tanda nama
tanpa fasih bahasa ibunda Negara
kerana lidahnya bahasa bumi dari moyang antarsana
menjadi bumiputera kuning juling.”
Siti Zainon Ismail, Surat Dari Awan

Siti Zainon Ismail
“Peta ini siapa yang menentunya, Tuan
nenek moyang kita petanya angin
hujan guruh bintang awan dan langit.

(Peta Negeri Hati Ini, Tuan)”
Siti Zainon Ismail, Surat Dari Awan

Siti Zainon Ismail
“Kuberi kepada kamu
ya bangsa kami
rumah sastera kita
silakan naiklah ke tangga.

(Rumah Sastera Kita)”
Siti Zainon Ismail, Surat Dari Awan

“Sesungguhnya bangsa Arab ialah para penyebar Islam. Mereka telah keluar dari pedalaman padang pasir dengan persiapan yang kuat dan berterusan, terus melebar hingga meluas ke pelbagai penjuru, kemudian Allah SWT telah menetapkan kemenangan kepada orang-orang berikan, kebebasan kepada orang-orang lemah dan kehinaan kepada orang-orang zalim dan sombong.

Mereka meluncur dari padang pasir bersama Rasulullah SAW selama seperempat abad, di samalah Rasulullah SAW telah mengisi pelajaran langit yang turun bersama wahyu, membekali mereka dengan pelbagai kekuatan pemikiran dan emosional sehingga mengangkat taraf kehidupan mereka secara material dan mental; menjadikan mereka sebagai pembawa misi, dan pencipta peradaban; memiliki kehormatan serta pemikiran yang benar, hati yang bersih dan jiwa yang peka mengatasi masyarakat Parsi dan Rom.”
Rohimuddin Nawawi Al-Bantani, Beragama Itu Akhlak Utama

Syed Hussein Alatas
“Kebudayaan Melayu berdasarkan nilai-nilai yang beradab dan bersifat kemajuan. Keburukan-keburukan yang terjadi adalah penyelewengan semata-mata yang terdapat di seluruh masyarakat dunia. Umpamanya, jika terdapat seorang Melayu malas, ini tidak bererti kebudayaan Melayu mengutamakan unsur malas. Pada hakikatnya ialah kebudayaan Melayu menganjurkan unsur rajin. Demikian juga jika ada ebebrapa orang Melayu yang terganggu fikirannya, mengamuk, membunuh beberapa orang, mata gelap, ini tidak bererti bahawa sifat mengamuk itu merupakan bahagian utama (basic part) daripada watak Melayu.”
Syed Hussein Alatas, Siapa Yang Salah: Sekitar Revolusi Mental dan Peribadi Melayu

Albert Camus
“Semua kerendahan dan kejahatan peradaban kita dapat diukur dengan sebuah aksioma bodoh bahwa bangsa yang bahagia tidak punya sejarah.”
Albert Camus, Mati Bahagia

Hendri Teja
“Kalbusia? Satu negeri yang sudah bisa bikin pesawat terbang, tapi tetap menyangka mobil impor lebih keren”
Hendri Teja, Iblis-Iblis Capres