Å·±¦ÓéÀÖ

Udara Quotes

Quotes tagged as "udara" Showing 1-4 of 4
“Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu.
Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang,
kala lelah kukepak sayap.
Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada.
Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati.
Berlebihan jika kuminta semua itu?
°ä±ð³¾²¹²õ°ì³Üâ€�
Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa?
Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku?
Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?”
Devania Annesya

“Kau terhenti.
Tergagu kau bertanya.
Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku.
“Siapa� kamu?�
Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis.
Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap.
Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu.
“Untuk apa?�
Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma.
Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu.
Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin.
Kau kembali berjalan.
Aku kembali diam.
Kita tak lagi berbincang.
Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu.
Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi.
Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah.
Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku.
Sebab bagimu aku selalu ada.”
Devania Annesya, Elipsis

Kusumastuti
“Di lantai, ibunya menggeliat, memutar, menggelinding, mengangkat tangan meraih sesuatu di udara, mengangkat kaki sampai seluruh isi roknya terlihat, menarikan tarian yang hanya dapat dicerna oleh dirinya sendiri.”
Kusumastuti, Denting Lara

Kusumastuti
“Bau keringat ketiga orang di paviliun itu terasa pengap dan tengik. Esa menggelengkan kepala. Percuma. Kalau pun sekarang AC dinyalakan, yang ada hanyalah mengkonservasi udara bau. Persis seperti menghirup udara dari ikan kalengan yang sudah kadaluwarsa”
Kusumastuti, Denting Lara