Udara Quotes
Quotes tagged as "udara"
Showing 1-4 of 4
“Jadilah rumahku, ke manapun aku berkelana, selalu berpulang padamu.
Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang,
kala lelah kukepak sayap.
Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada.
Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati.
Berlebihan jika kuminta semua itu?
°ä±ð³¾²¹²õ°ì³Üâ€�
Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa?
Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku?
Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?”
―
Jadilah tanah tempatku berpijak, ke mana pun aku terbang, ku kan kembali pulang,
kala lelah kukepak sayap.
Bisakah kau menjadi udara, setiap hela nafas ini, kau ada.
Bisakah kau menjadi kerlip lilin, kala gelap, kau keindahan sejati.
Berlebihan jika kuminta semua itu?
°ä±ð³¾²¹²õ°ì³Üâ€�
Kau menjadi persinggahan sesaat, yang kan terlupa?
Atau kau serupa percik air yang hilang melewati sela-sela jariku?
Bisa saja kau pendar, yang dalam sekejap mata, keindahannya memudar?”
―
“Kau terhenti.
Tergagu kau bertanya.
Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku.
“Siapa� kamu?�
Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis.
Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap.
Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu.
“Untuk apa?�
Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma.
Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu.
Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin.
Kau kembali berjalan.
Aku kembali diam.
Kita tak lagi berbincang.
Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu.
Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi.
Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah.
Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku.
Sebab bagimu aku selalu ada.”
― Elipsis
Tergagu kau bertanya.
Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku.
“Siapa� kamu?�
Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis.
Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap.
Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu.
“Untuk apa?�
Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma.
Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu.
Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin.
Kau kembali berjalan.
Aku kembali diam.
Kita tak lagi berbincang.
Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu.
Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi.
Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah.
Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku.
Sebab bagimu aku selalu ada.”
― Elipsis

“Di lantai, ibunya menggeliat, memutar, menggelinding, mengangkat tangan meraih sesuatu di udara, mengangkat kaki sampai seluruh isi roknya terlihat, menarikan tarian yang hanya dapat dicerna oleh dirinya sendiri.”
― Denting Lara
― Denting Lara

“Bau keringat ketiga orang di paviliun itu terasa pengap dan tengik. Esa menggelengkan kepala. Percuma. Kalau pun sekarang AC dinyalakan, yang ada hanyalah mengkonservasi udara bau. Persis seperti menghirup udara dari ikan kalengan yang sudah kadaluwarsa”
― Denting Lara
― Denting Lara
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 99.5k
- Life Quotes 78k
- Inspirational Quotes 74.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 30.5k
- Inspirational Quotes Quotes 27.5k
- God Quotes 26.5k
- Truth Quotes 24k
- Wisdom Quotes 24k
- Romance Quotes 23.5k
- Poetry Quotes 22.5k
- Life Lessons Quotes 20.5k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Quotes Quotes 18.5k
- Hope Quotes 18k
- Faith Quotes 18k
- Inspiration Quotes 17k
- Spirituality Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15k
- Motivational Quotes 15k
- Writing Quotes 15k
- Relationships Quotes 15k
- Life Quotes Quotes 14.5k
- Love Quotes Quotes 14.5k
- Success Quotes 13.5k
- Time Quotes 12.5k
- Motivation Quotes 12.5k
- Science Quotes 12k
- Motivational Quotes Quotes 11.5k