Å·±¦ÓéÀÖ

Cerpen Quotes

Quotes tagged as "cerpen" Showing 1-20 of 20
Seno Gumira Ajidarma
“Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya.”
Seno Gumira Ajidarma, Linguae

“Enam hari setelah Tuhan menyentil bumi dan membuatnya porak poranda, seekor anjing muncul dari puing-puing gedung dan menatap langit yang suram. Saat itu, seperti dirisalahkan dalam kitab agama baru berabad-abad kemudian, bumi hancur karena kecerobohan pemiliknya sendiri. Tuhan telah menetapkan tanggal kiamat yang salah bagi jagad raya, dan menampakkan makhluk-makhluk menakjubkan yang hanya ada dalam novel. Tapi makhlukmakhluk itu pun undur dengan perasaan sedih setelah Tuhan memerintahkan mereka balik ke asalnya. Salah satunya raksasa bernama Dajjal yang mesti rela dirantai lagi dan
masuk ke pedalaman tanah untuk menunggu dan tidur membosankan berabad-abad lagi. Karena sebenarnya kiamat itu masih terlalu cepat satu juta tahun, dan kelupaan Tuhan mesti kita maklumi sebab umurnya sudah sangat tua dan kepikunan menyerang siapa saja yang berusia lanjut.”
Bagus Dwi Hananto, Apokalip dan Humor Tersendat

Intan Paramaditha
“Ibuku menyodori pisau, “Potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, kau tak akan terlalu banyak berjalan. Jadi kau tak membutuhkannya.â€� Maka kuambil pisau itu dan kugigit bibirku saat aku berusaha memutuskan ibu jari kakiku. Kubuang bagian kecil tubuhku itu ke tempat sampah untuk menjadi santapan anjing. Kini kusadari, Nak, dunia ini memang penuh dengan sepatu kekecilan yang hanya menerima orang-orang termutilasi.

(Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari)”
Intan Paramaditha, Sihir Perempuan

Norman Erikson Pasaribu
“Perasaan hanya tak bisa bicara, bukan lumpuh, itulah alasan kita diberi mulut.”
Norman Erikson Pasaribu, Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
tags: cerpen

Intan Paramaditha
“Seorang pencerita adalah juga seorang penghapus.”
Intan Paramaditha, Klub Solidaritas Suami Hilang: Cerpen Pilihan KOMPAS 2013

Seno Gumira Ajidarma
“Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata, tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain.”
Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja untuk Pacarku

Jessica Huwae
“Salah satu bentuk kemalasan seorang perempuan adalah untuk mencari jati diri yang selanjutnya paska berumahtangga. Rasa kenyamanan memang bisa menghancurkan.”
Jessica Huwae, Skenario Remang-Remang

“Banyak orang bodoh berandai-andai rasanya diagung-agungkan menjadi orang pintar dan banyak orang pintar frustasi memikirkan bagaimana caranya supaya mereka dapat hidup santai seperti orang-orang bodoh.
Itulah hukum alam teman. Tidak ada yang benar-benar bersyukur, kecuali mereka yang mengamati dan mau memahami apa saja yang ada di otak orang-orang pintar dan orang-orang bodoh.”
Zenith Tacia Ibanez

Salleh Razak
“Mereka amat berbahaya. Licik dan berpengalaman, serta rancangan mereka sangat tersusun dan kemas. Tak semua penjahat bodoh. Penjahat selalunya lebih bijak daripada mereka yang bijak.”
Salleh Razak, Dajjal Sebuah Antologi

Clara Ng
“Katakan, tak ada cinta yang lebih besar daripada cinta yang tak sudi takluk dengan waktu.”
Clara Ng, Malaikat Jatuh dan Cerita-Cerita Lainnya

“Setiap hari jadi dirayakan, sesungguhnya kita kita tengah merayakan datangnya kematian.”
N. Riantiarno, 18 Fiksi di Ranjang Bayi

“Kita semua tahu dunia itu besar, mikroba itu kecil, kita tidak bisa menawar panas matahari, tidak bisa melelang udara, dan segala hal yang kita nikmati. Kita juga tidak bisa sepenuhnya menentukan sebanyak apa rezeki yang harus kita punya. Semua tergantung pada sudut pandang. Bagaimanapun, orang pintar dan bodoh, kaya dan miskin, bahagia atau menderita, itu hanyalah sebagian sisi yang tampak dan membentuk sudut pandang kita. Jika sudah jengah dengan hidup, coba sedikit bergerak dan ubah sudut pandangmu pada dunia. Ingat, kita pun tidak bisa menawar seberapa banyak hari yang kita punya.”
Zenith Tacia Ibanez

Helvy Tiana Rosa
“Anak kandung tumbuh dan dilahirkan dari rahim ibunya. Tetapi anak angkat tumbuh dan lahir dari hati ibunya.”
Helvy Tiana Rosa, Ketika Mas Gagah Pergi
tags: cerpen

W.S. Rendra
“Katakanlah: apa duka, apa ria, apa nestapa, apa jenaka, apa iseng, apa segala. Bagaimanapun, mereka ada, bernapas, dan hidup juga.”
W.S. Rendra, Pacar Seorang Seniman

Jessica Huwae
“Apapun teorinya, hari sial itu memang ada. Bila mungkin, ingin rasanya menghapus hari tersebut atau memulai segala sesuatu dari awal. Bagaimana bila kita memulai hari dengan cara yang berbeda, memikirkan dan melakukan hal-hal yang berbeda atau tidak mengambil keputusan-keputusan yang telah kita ambil di hari itu, akankah hidup membawa kita pada akhir yang berbeda?”
Jessica Huwae, Skenario Remang-Remang

Danarto
“Sri menatapku tak berkedip. Satu per satu dia melepas baju saya. Satu per satu saya melepas bajunya. "Aku rindu sekali, Sayang," bisik saya. "Lebih-lebih aku, Mas, desisnya di lubang telinga saya. Sawah yang luas itu pun menyibak. Mendorong kebutuhan yang dalam sang bajak. Di haribaan yang saling lekat, kesampaian jadi pekat. Desahan itu, desahan itu, seperti lama benar aku tak mendengarnya. Lautku. Angkasaku. Bumiku. Yang memberikan segalanya. Aku menyelam tak puas-puasnya. Ada yang kurang. Ada yang kurang. Apa itu? Minta diulang? Tambah waktu.”
Danarto, Berhala: Kumpulan Cerita Pendek

Danarto
“Perempuan ini jangan-jangan sinting, pikir saya. Tapi kok hmm manis. Mana ada perempuan yang manis tapi sinting, pikir saya lagi.”
Danarto, Berhala: Kumpulan Cerita Pendek

W.S. Rendra
“Lalu, muka Narso yang berlabuh di lehernya itu menundukkan dalam penyerahan dan pejam mata. Waktu itu apa lagi yang akan dikerjakannya lain daripada itu. Ia tak berdaya apa-apa. Ia bertindak atas naluri dan detak jantungnya. Sesuatu yang telah ia bawa sejak lahir dan tiba-tiba menuntut jalannya keluar. Begitu mendesak dan segalanya itu di luar kuasanya. Dan, cintanya yang besar makin memudahkan ia luruh dalam penyerahan yang bulat tanpa tanggung-tanggung.”
W.S. Rendra, Pacar Seorang Seniman

“Apapun bentuknya, kata tetap kata, ia punya sihir terhadap para pembacanya.”
Robi Aulia Abdi

Zalila Isa
“aku takkan benarkan engkau kalah walaupun aku bukan seorang pemenang. Aku takkan benarkan engkau sedih walaupun aku juga jarang bertemu gembira. Engkau perlu bangun. Hidup ini bukan untuk menoleh ke belakang mengutip kepedihan. Hidup perlu kuat.”
Zalila Isa, seratus rumah yang sunyi