Å·±¦ÓéÀÖ

Bijaksana Quotes

Quotes tagged as "bijaksana" Showing 1-30 of 41
Pramoedya Ananta Toer
“Pada akhirnya persoalan hidup adalah persoalan menunda mati, biarpun orang-orang yang bijaksana lebih suka mati sekali daripada berkali-kali.”
Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

Dee Lestari
“Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya.”
Dee

Ahmad Fuadi
“Kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita.”
Ahmad Fuadi, Anak Rantau

Ahmad Fuadi
“merdekakan jiwa
merdekakan pikiran
dari penjajahan pribadi yang kita buat sendiri-sendiri
dari amarah dan dendam
maafkan, maafkan, maafkan
lalu mungkin lupakan”
Ahmad Fuadi, Anak Rantau

Ahmad Fuadi
“Biarlah aku jadi lilin, membakar diri sendiri agar orang punya cahaya terang.”
Ahmad Fuadi, Anak Rantau

Ahmad Fuadi
“Kemunduran akan terus terjadi, bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena lebih banyak orang baik yang memilih diam dan tidak peduli. Pembiaran berjemaah, akan menghasilkan penyesalan berjemaah.”
Ahmad Fuadi, Anak Rantau

Tere Liye
“Pernikahan, urusan perasaan, cinta, kebencian, itu semua tidak sesederhana yang dilihat. Kadangkala tidak bisa dijelaskan, kadangkala dipenuhi kesalahpahaman, kadangkala dipenuhi kesedihan dan kemalangan.”
Tere Liye, Pergi

Tere Liye
“Dalam banyak hal kita tidak bisa memilih waktu terbaik. Saat sesuatu itu datang, kita hanya bisa bersiap menghadapinya.”
Tere Liye, Pergi

Ahmad Fuadi
“Aku pernah berperang karena dendam dan marah. Akibatnya menyakitkan hati, baik ketika menang apalagi ketika kalah. Karena itu jangan berbuat apa pun karena dendam dan marah, tapi bertindaklah karena melawan ketidakadilan.”
Ahmad Fuadi, Anak Rantau

Vinca Callista
“Kamu jangan mau ngelepasin kebahagiaan kamu cuma demi setuju-setuju aja sama apa yang orang lain bilang 'baik' buat kamu. Padahal yang baik buat mereka, belum tentu baik buat kamu.”
Vinca Callista, Kilah

Tere Liye
“Kehidupanmu ada di persimpangan berikutnya. Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang, dan kamu berhasil menemukannya, bahwa siapa pun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan. Kamu akhirnya pulang menjenguk pusara bapak dan mamakmu, berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutnya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa 'kendaraannya'? Dan ke mana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang. Menemukan jawaban tersebut. 'Kamu akan pergi ke mana?'.”
Tere Liye, Pergi

Vinca Callista
“Pikiran kita adalah akses untuk berkilah. Manusia sering kali lebih mencintai pikirannya sendiri, lalu tidak mau terbuka pada semua jawaban. Maka, jika fakta punya banyak versi, kita akan selalu memilih berpihak pada versi pikiran pribadi.”
Vinca Callista, Kilah

Vinca Callista
“Pasangan yang 'saling mengisi', misalnya pribadi atau kebiasaan cowoknya bertolak belakang sama ceweknya. Ada juga cewek yang suka cowok yang berasal dari dunia pergaulan yang beda sama dirinya. Itu karena, disadari atau enggak, dia punya obsesi terpendam yang enggak bisa dia lakuin sendiri, dan dia temukan itu di orang lain. Jadi, seolah-olah dia bisa melihat obsesinya itu terwujud lewat pasangannya. Tetap aja mengacu pada dirinya sendiri, 'kan? Itu cara kita berkilah dari pengakuan bahwa kita enggak berhasil menciptakan obsesi itu sendiri.”
Vinca Callista, Kilah

Vinca Callista
“Pada dasarnya, manusia kan mencintai dirinya sendiri. Tahu mitos soal 'kalau mukanya mirip berarti jodoh', dan suami-istri biasanya berwajah mirip? Mitos itu cuma cara masyarakat untuk berkilah dari pengakuan bahwa mereka mencintai dirinya sendiri, atau itu dorongan dari alam bawah sadar mereka. Aku rasa, itu terjadi karena setiap orang terlalu mencintai dirinya sendiri. Makanya dia bakal merasa cocok sama orang lain yang serupa sama dia. Wajahnya serupa, kelakuannya serupa—semua mengacu pada dirinya sendiri.”
Vinca Callista, Kilah

Vinca Callista
“Kita tuh selalu jadi manusia yang terpisah dari manusia lain. Artinya, kita bisa nentuin sendiri apa yang mau kita lakuin, enggak mesti terkekang sama izin dari orang lain yang bahkan enggak paham apa tujuan kita ngelakuin itu. Kebahagiaan kita tersembunyi di balik itu, tapi orang lain ngelihatnya cuma dari permukaan—cuma dari apa yang mereka mau lihat.”
Vinca Callista, Kilah

Tere Liye
“Aku tidak akan membiarkan perasaan bersalah atau orang lain menghakimiku, karena mereka tidak berhak melakukannya. Biarlah Tuhan kelak yang menghakimiku.”
Tere Liye, Pergi

Tere Liye
“Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Tapi jangan biarkan emosi, rasa marah, kebencian kepada lawan membuat penilaian kita menjadi keliru. Tetap fokus pada tugas masing-masing. Marah, tindakan nekat membabi-buta hanya membuat lawan kita tertawa.”
Tere Liye, Pergi

Tere Liye
“Urusan sepenting apa pun bisa menunggu, tapi makanan hangat tidak. Jika tidak segera disantap, dia akan dingin.”
Tere Liye, Pergi

Ahmad Fuadi
“Kita boleh ditinggalkan, tapi jangan mau merasa ditinggalkan. Kita boleh dibuang, tapi jangan merasa dibuang.”
Ahmad Fuadi, Anak Rantau

Ahmad Fuadi
“Hidup kita hidup yang khianat, kalau hanya memikir diri sendiri. Khianat kepada misi kemanusiaan.”
Ahmad Fuadi, Anak Rantau

Vinca Callista
“Rencanamu bisa kelihatan bakal berjalan lancar, tapi kadang orang lain sebenarnya enggak berpihak sama kamu, lho....”
Vinca Callista, Kilah

Tere Liye
“Ada banyak solusi selain membunuh seseorang. Kecuali tidak ada jalan keluar lagi. Tidak selalu seorang tukang pukul itu pembunuh seperti penjahat.”
Tere Liye, Pergi

M. Fadli
“Kau dibutakan oleh ikatan itu. Ikatan batin yang kalian miliki membuat panca indra dan observasimu tertutup. Dan itu wajar.”
M. Fadli, Nostalgia Merah

“Kau harus memperlakukan dirimu seperti bonsai. Cobalah hidup selaras dan terbuka dengan lingkunganmu. Pengalamanmu hidup berpindah-pindah negara harus disyukuri, karena itu kelebihan yang jarang dimiliki anak-anak lain. Kau punya kesempatan untuk melihat dunia secara langsung.”
Maisie Junardy, Man's Defender

“Kita tidak bisa mengubah orang lain. Tapi, kita bisa mengubah diri kita sendiri.”
Maisie Junardy, Man's Defender

“Filsafat Cina, Tao Teh Ching, dalam The Book of Change mengajarkan, 'Dia yang mengenal orang lain adalah seorang bijak. Dia yang mengenal dirinya sendiri adalah orang yang tercerahkan. Dia yang menguasai orang lain memiliki kekuatan. Dia yang menguasai dirinya sendiri memiliki kekuasaan.' Menguasai diri sendiri membuat kita terus seimbang.”
Maisie Junardy, Man's Defender

“Perang terjadi karena manusia berpikir pendek dan mengikuti emosi, terutama rasa takut. Filsafat Cina, Tao Teh Ching berkata, 'Rasa takut menyebabkan senjata dikumpulkan. Sebenarnya tidak ada yang suka perang. Para bijak akan selalu menghindarinya.' Sama seperti semua hal buruk lainnya. Tapi, kalau bergerak dengan perencanaan dan taktik, tujuan sebesar apa pun bisa dicapai.”
Maisie Junardy, Man's Defender

“Itulah, tiap orang unik, punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Tinggal bagaimana kita mengolah kekurangan agar bisa berubah menjadi kelebihan.”
Maisie Junardy, Man's Defender

“Waktu kamu
menyimpan apa yang kamu dapat hanya untuk dirimu, tubuhmu yang akan menolaknya sendiri. Ambil dan makanlah secukupnya.”
Wisnu Suryaning Adji, Rahasia Salinem

“Manusia bijak tidak tantrum hanya karena tidak diundang ke acara pernikahan seseorang”
Fajrina Rina

« previous 1