Å·±¦ÓéÀÖ

Takdir Quotes

Quotes tagged as "takdir" Showing 1-30 of 52
Dee Lestari
“Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.”
Dee, Rectoverso

Titon Rahmawan
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,
Telah meninggal dunia ibu, oma, nenek kami tercinta....

Requiescat in pace et in amore,
Telah dipanggil ke rumah Bapa di surga, anak, cucu kami terkasih....

Dalam sehari, Bunda menerima dua kabar (duka cita / suka cita) sekaligus. Apakah kesedihan serupa cucuran air hujan yang jatuh dan mengusik keheningan kolam? Apakah kebahagiaan seperti sebuah syair yang mesti dipertanyakan mengapa ia digubah? Bagaimana kita mesti menjawab pertanyaan tentang kematian orang orang terdekat? Mengapa mereka pergi? Kemana mereka akan pergi?

Memento mori, serupa nyala api dan ngengat yang terbakar. Seperti juga lilin yang padam, bunga yang layu, ranting yang kering, pohon yang meranggas. Mereka hanyalah sebuah pertanda, bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Agar kita senantiasa teringat pada tempus fugit, bahwa waktu yang berlalu  tak akan pernah kembali. Ketika Bunda masih muda, sesungguhnya Bunda sudah tidak lagi muda, tak akan pernah bertambah muda, tak akan kembali muda. Waktu telah merenggut kemudaan kita pelan pelan. Ketuaan adalah sebuah keniscayaan, dan kematian adalah sebuah kepastian.

Tak ada sesuatu pun yang abadi, Anakku. Ingatan tentang mati semestinya memberi kita pelajaran berharga. Jangan pernah menyia nyiakan waktu. Jangan hilang niat untuk bangkit dari ranjang. Jangan terlalu malas untuk bekerja. Jangan terlalu letih untuk menuntaskan hari. Jangan pernah lupa untuk berdoa. Jangan lalai untuk bersyukur. Jadikan hari ini sebagai milikmu. Ketika semua perkara seakan menggiring langkahmu pada kesulitan, kegagalan, ketidakpastian dan rasa sakit. Pikirkanlah siapa yang akan jadi malaikat pelindung dan penolongmu? Bagaimana engkau akan menemukan eudaimonia? Bagaimana engkau hendak memaknai hidup?

Dalam sekejap mata hidup bisa berubah. Waktu berlalu dan ia tak akan pernah kembali. Gunakan kesempatan untuk bercermin pada permukaan air yang jernih. Tatap langsung kedalaman telaga yang balik menatap kepada dirimu. Abaikan rasa sakit dan penderitaan, sebab puncak gunung sudah membayang di depan mata dan terbit matahari akan menghangatkan kalbumu. Cuma dirimu yang punya kendali atas pikiran, hasrat dan nafsu, perasaan dan kesadaran inderawi, persepsi, naluri dan semua tindakanmu sendiri.

Ketika kita mengingat kematian, kita tidak akan lagi merasa gentar. Sebab ia lembut, ia tak lagi menakutkan. Ia justru menuntaskan segala rasa sakit dan penderitaan. Ia pengejawantahan waktu yang berharga, kecantikan yang abadi, indahnya rasa syukur, dan kemuliaan di balik setiap ucapan terima kasih. Ia mengajarkan kita bagaimana menghargai kehidupan yang sesungguhnya. Ia membimbing kita menemukan pintu takdir kita sendiri.

Apapun perubahan yang menghampiri dirimu. Ia adalah pintu rahasia yang menjanjikan kejutan yang tak akan pernah kamu sangka sangka. Yang terbaik adalah menerimanya sebagai berkat. Apa yang ada dalam dirimu adalah kekuatanmu. Engkau akan membuatnya berarti. Bagi mereka yang paham, takdir dan kematian adalah sebuah karunia, seperti juga kehidupan. Sesungguhnyalah kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.”
Titon Rahmawan

“Takdir Allah itu selalu yang terbaik, bila terasa belum baik, berarti takdirnya belum selesai”
alfialghazi, Maaf Tuhan Aku Hampir Menyerah

Mohamad Sobary
“Hidup bukan kita yang punya. Kita, mungkin, hanya pengelola yang merdeka, yang bebas menggelinding ke mana kita suka, selama tak bertentangan dengan irama gerak
cakramanggilingan, roda nasib, yang berputar di luar kendali manusia.”
Mohamad Sobary, Sang Musafir

Nailal Fahmi
“Terkadang kita yang menentukan takdir kita sendiri, terkadang takdir mengendalikan kita.”
Nailal Fahmi, Badung Kesarung: Santri Badung Tanpa Sarung
tags: takdir

“Di dunia ini, manusia terlahir dalam dua spesies, yang pertama adalah manusia bersayap dan yang kedua manusia tanpa sayap. Manusia yang bersayap ditakdirkan untuk terbang tinggi menggapai langit tak terbatas. Sementara spesies yang kedua, kebalikannya, ia ditakdirkan untuk tetap menjejak bumi dan menjalani hidupnya dengan terus menyentuh tanah. Nggak ada yang buruk dengan spesies yang kedua, mereka hanya menjalani takdirnya. Begitu saja.”
Devania Annesya, Maya Maia

Suci B.Y.T.
“Entah bagaimana cara Sang Sutradara menuliskan skenario tentang kau ataupun aku kala itu hingga hari ini aku merasa kesepian dengan kau berada di pulau berbeda”
Suci B.Y.T., Apakah Seperti ini Cinta itu Sendiri ? Sebuah Cerita pada Sepotong Kayu

“Menjadi diri sendiri adalah suatu bentuk penghargaan untuk diri sendiri”
Arief Subagja

“Tuhan telah menentukan takdir baik dan buruk setiap makhluknya.
Semua yang terjadi di dunia selalu ada campur tangan Tuhan di dalamnya, hanya bagaimana kita mampu bertahan dan kuat dari setiap takdir yang kita terima.”
Ulilamrir Rahman (Founder IYALE INSTITUTE)

“Aku tak pasti perkataan ‘regretâ€� paling sesuai dengan masa lalu aku. Apa yang aku tahu, apabila jalan itu tiba-tiba berubah, pasti ada hal lain yang Allah sediakan untuk aku. Yang lebih baik.”
Fiy Suri, Kala Runtuh Seluruhnya

“Kebaikan akan mendatangkan ketenangan sedangkan kejelekan (dosa) akan mendatangkan kegelisahan”
alfialghazi, Maaf Tuhan Aku Hampir Menyerah

Marah Rusli
“Demikianlah nasib setiap manusia yang dikaruniai Tuhan umur yang panjang. Makin lama hidupnya makin jauhlah dia tercercer di belakang anak, cucu, keluarga, masyarakat, dan bahkan kaumnya; sehingga akhirnya terbaringlah dia seorang diri, dalam kuburnya.”
Marah Rusli, Memang Jodoh

Agus Fitriandi
“Kita sering tidak sadar bahwa pada hakikatnya masing-masing dari kita menjalani sebuah takdir. Takdir-takdir itu saling terhubung hingga mencapai takdir final masing-masing. Demikian halusnya skenario keterhubungan itu, sehingga kita tidak menyadarinya.”
Agus Fitriandi, CIA (Catatan Insinyur Angus) dari ITB

Sam Haidy
“Mencintaimu bukanlah keputusanku
Bukan hal yang bisa kutawar-tawar
Aku memang dirancang untuk itu
Sekeras apapun kucoba menghindar”
Sam Haidy

“Pikirku menjelma pakar,
pakarku menjadi alir.

Alirku menjelma sukar,
sukarku menjadi tabir.

Tabir menyingkap takdir;
malang urung dielak
takdir malah beranjak.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Bersyukurlah dengan apa yang terjadi hari ini, maka senja akan memberikan cahaya yang indah”
Arief Subagja

“Saat hujan perlahan membasahiku, di bawah guyuran hujan 'ku tatap lekat garis tanganku.
Apakah ini yang kutunggu? Hanya untuk hal seperti inikah waktuku?”
Doubleupoint

“Langit tak lagi mendung
Langit tak lagi biru
Begitu bergejolak langit ini, seperti tuhan tidak mentakdirkan kau denganku.”
Zakiyahdini Hanifah

“Berpisah adalah cara membuat kita semakin dekat

Membantah semua pikiran baik dan buruk

Menunggu takdir bermain

Sampai akhirnya tetap jatuh di hati yang sama

Aku dan kamu, menyakitkan”
Zakiyahdini Hanifah

“Tekad yang kuat takkan mampu menembus dinding takdir”
Ibnu Atha'illah As-Sakandari, Al-Hikam

Ruta Sepetys
“Takdir bagaikan seorang pemburu. Laras senapannya menempel di keningku.”
Ruta Sepetys, Salt to the Sea
tags: takdir

Darma Mohammad
“Mata panah terlepas dari busur
tidak engkau tahu di mana jatuhnya.
Laksana perjalanan engkau
di mana akan berhenti.”
Darma Mohammad, Langit Membuka Lipatan

Auni Zainal
“Takdir memang suka mempersendakan manusia. Di kala manusia hendak mengelak, ketika itulah takdir semakin mahu mengacah.”
Auni Zainal, Mawaddah Ilmi Ingin Pulang
tags: takdir

“Sejak awal dimulainya kehidupan, kita semua sudah memiliki jalan cerita untuk bagaimana kita akan hidup. Kita tidak bisa berandai-andai, jika saja kita memilih begini atau begitu saat itu mungkin takkan menjadi seperti sekarang. Hal terpenting dalam kehidupan ini adalah seberapa iklhas kita menjalaninya, tidak ada penyesalan sama sekali, tak perlu menyalahkan diri kita sendiri atau malah manusia lain. Tuhan hanya butuh bagaimana sikap kita menjalani takdirNya. Itu saja, Memangnya apa lagi?
Tepat 30 tahun aku meilhat sendiri isi dunia ini berserta kehidupan-kehidupan didalamnya. Pertanyaanku masih sama mengapa kita dipaksa menjadi manusia? Manusia bisa memilih jalan hidupnya sendiri, benarkah? Jika bisa memilih, pilihanku masih sama seperti 20 tahun yang lalu. Aku pasti memilih diciptakan menjadi mahluk hidup lain selain manusia.”
nom de plume

Mehmet Murat ildan
“Karanlıkların içinden kendi başına baÅŸarıyla geçtiysen iyi bir takdiri hak ediyorsun! Ama eÄŸer °ì²¹°ù²¹²Ô±ôı°ìların içinden hem kendini hem de baÅŸkalarını baÅŸarıyla geçirdiysen, iÅŸte bu takdir ötesi bir ÅŸeydir!”
Mehmet Murat ildan

Seno Gumira Ajidarma
“Setiap orang bisa menjadi juru cerita, setidaknya untuk dirinya sendiri, dengan begitu ia berkuasa atas nasibnya, tidak ditentukan oleh seorang juru cerita lain.”
Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong

“Kurasa orang sama seperti saat mereka dilahirkan. Ada hal yang terjadi pada kita sepanjang hidup yang mungkin mengubah kita, tapi hanya sedikit. Orang itu seperti batu di pantai—laut akan menerjang batu hari demi hari. jam demi jam. Oltaim. Tetapi batu tetaplah batu, Tidak akan berubah menjadi yang lain. Mungkin ada beberapa bagian yang rusak dan terlepas ke laut. Tapi bentuknya akan tetap seperti saat diciptakan oleh Moroa.”
Zillah Bethell, The Shark Caller

“Beberapa orang memang ditakdirkan untuk bertemu tetapi tidak ditakdirkan untuk bersama dan beberapa orang ditakdirkan untuk bersama tetapi tidak ditakdirkan untuk bersatu. Kehidupan tidak pernah adil bagi mereka yang merasakan hal itu.”
Tommy Jonathan Sinaga

Mehmet Murat ildan
“Her türlü takdiri hak eden insanlar, en °ì²¹°ù²¹²Ô±ôı°ì çukurlara düşüp de oradan yine gülümseyerek çıkanlardır!”
Mehmet Murat ildan

Mehmet Murat ildan
“Herkesin ulaÅŸtığı bir yere ulaÅŸtıysan hiç takdir bekleme! Ama kimsenin ulaÅŸmadığı bir yere ulaÅŸtıysan, o zaman zaten takdir beklemene gerek yok, fazlasıyla takdir edileceksin!”
Mehmet Murat ildan

« previous 1